Pencemaran Cisadane: BRIN Wanti-wanti Risiko Kesehatan Kronis Pestisida

Pembaruan: 15 February 2026, 16:26 WIB

Peneliti BRIN Wanti-wanti Risiko Ini Akibat Pencemaran Pestisida di Cisadane
Pencemaran Cisadane: BRIN Wanti-wanti Risiko Kesehatan Kronis Pestisida


DETIK.EDGEONE.APP - Bogor, Indonesia – Periset dari Pusat Riset Limnologi dan Sumberdaya Air, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ignasius Sutapa, baru-baru ini memperingatkan potensi dampak serius pencemaran pestisida di Sungai Cisadane. Peringatan ini muncul menyusul insiden kebakaran gudang yang diduga menjadi penyebab tumpahan zat kimia berbahaya tersebut.

Sutapa secara khusus menyoroti risiko tumpahan zat kimia yang bisa menimbulkan efek kesehatan kronis bagi masyarakat. Pencemaran ini mengancam bukan hanya ekosistem sungai, tetapi juga kesehatan ribuan warga yang bergantung pada Sungai Cisadane, seperti dilansir Antara, Minggu (15/2/2026).

Ancaman Bioakumulasi dan Biomagnifikasi

Ignasius Sutapa menjelaskan adanya potensi bioakumulasi dan biomagnifikasi yang mengkhawatirkan akibat residu pestisida. Zat-zat berbahaya ini akan terakumulasi dalam jaringan organisme air, kemudian berpindah ke predator tingkat lebih tinggi, termasuk manusia.

Proses ini terjadi melalui konsumsi ikan dari sungai, membuat risiko pencemaran tidak hanya berdampak jangka pendek tetapi juga berpotensi memicu efek kesehatan kronis. Kontaminasi juga dapat mencapai sedimen dasar sungai, menjadi sumber pelepasan racun sekunder yang berkepanjangan.

Artinya, meskipun air permukaan sungai tampak jernih kembali, ancaman toksik masih dapat tersimpan di lapisan sedimen. Racun ini bisa terlepas kembali ke kolom air dalam kondisi tertentu, terus membahayakan kehidupan di sungai dan sekitarnya.

Ancaman Bioakumulasi dan Biomagnifikasi

Risiko Kesehatan dari Paparan Pestisida

Dari sisi kesehatan publik, paparan pestisida dapat terjadi melalui berbagai jalur yang mengkhawatirkan. Kontak langsung seperti mandi dan mencuci dengan air sungai menjadi salah satu risiko utama yang perlu dihindari.

Selain itu, masyarakat juga berisiko secara tidak langsung melalui konsumsi air baku atau ikan yang telah tercemar pestisida dari aliran sungai tersebut. Sutapa menyebutkan, jenis pestisida tertentu, terutama yang bersifat neurotoksik, dapat menyebabkan gejala akut yang berbahaya.

Gejala tersebut meliputi mual, pusing, gangguan saraf, hingga kematian, tergantung pada dosis paparan yang diterima oleh individu. Dalam jangka panjang, paparan kronis berpotensi memicu gangguan endokrin, kerusakan organ, bahkan risiko karsinogenik atau pemicu kanker yang mematikan.

Langkah Mitigasi: Jangka Pendek dan Panjang

Untuk mitigasi jangka pendek, Ignasius Sutapa merekomendasikan penutupan sementara intake air baku PDAM di zona terdampak. Langkah ini krusial untuk mencegah penyebaran lebih luas zat berbahaya ke pasokan air minum masyarakat.

Peningkatan pemantauan kualitas air secara *real-time* juga harus digencarkan, diiringi dengan edukasi cepat kepada masyarakat. Tujuannya agar warga tidak menggunakan air sungai untuk keperluan apa pun sampai dinyatakan aman oleh pihak berwenang.

Langkah Mitigasi: Jangka Pendek dan Panjang

Upaya netralisasi atau remediasi *in-situ* juga perlu segera dilakukan jika sumber pencemaran masih teridentifikasi dan aktif. Ini adalah langkah darurat untuk mengurangi konsentrasi zat berbahaya di lingkungan sungai secara langsung.

Sementara itu, Sutapa menekankan pentingnya strategi jangka panjang yang berkelanjutan dan komprehensif. Hal ini dimulai dari penguatan pengawasan dan penegakan hukum terhadap pelaku pencemaran Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) di kemudian hari.

Pengembangan sistem peringatan dini berbasis sensor kualitas air *online* juga diperlukan untuk deteksi cepat pencemaran. Diversifikasi sumber air baku menjadi penting guna meningkatkan ketahanan air saat terjadi krisis serupa di masa depan.

Restorasi ekosistem sungai melalui rehabilitasi zona riparian atau bantaran sungai juga menjadi langkah krusial. Ini bertujuan meningkatkan kapasitas alami sungai dalam menyaring polutan dan memulihkan fungsi ekologisnya.

Imbauan BRIN untuk Masyarakat

BRIN mengimbau masyarakat agar tidak panik, tetapi tetap waspada dan disiplin dalam mengikuti instruksi resmi dari pemerintah serta PDAM setempat. Penting untuk tidak menggunakan air sungai untuk memasak, minum, mencuci, atau mandi selama periode ini.

Penggunaan kembali air sungai hanya boleh dilakukan setelah ada pernyataan resmi bahwa air telah aman dari kontaminasi zat berbahaya. Masyarakat juga dilarang mengonsumsi ikan dari wilayah terdampak selama masa krisis ini, demi menghindari risiko kesehatan yang tidak diinginkan dan potensi keracunan.



Ditulis oleh: Rudi Hartono

Bagikan Artikel ini: